Visited 94 times, 1 so far today



Ayah Mae-ri : “Mengembalikannya?Bagaimana caranya? Lupakanlah, dan cepat ikut aku ke kantor polisi“. Saat ayah Mae-ri menarik narik Mu Gyul hendak menyeretnya ke kantor polisi, secara tidak sengaja ayah Mae-ri melihat tirai pembatas di tempat tidur Mu Gyul.







Mae-ri : “Ayah apa yang kau lakukan disini?“
Ayah Mae-ri : “Bukan kah tadi kau ada di dalam tas itu?“
Jung In : “Mae-ri datang setelah selesai konser, dan minum obat sebelum tidur“. Mae-ri hanya mengangguk angguk.
Ayah Mae-ri : “Jika kau yang berkata seperti itu menantu, aku percaya padamu. Dan kau, keluar dan bicara padaku” ucap ayah Mae-ri sambil menarik Mae-ri keluar kamar.


Jung In : “Ayah, kau tidak perlu khawatir, percayakan Mae-ri padaku“.
Ayah Jung In : “Baiklah. Kau memang suami yang dikirim dari surga untuk Mae-ri“.
Waktu ayah Mae-ri masih berbicara tiba tiba ponsel Jung In berbunyi dan Jung In mohon pamit untuk menerima telpon.



Mae-ri : “Tidak bisa, ayahku pasti saat ini sedang berdiri di depan rumahmu“.
Mu Gyul : “Aku bahkan tidak bisa pulang ke rumahku sendiri? Apan-apan ini.“
Jung In : “Ayah pasti sudah mulai curiga dengan apa yang kita lakukan. Kau lebih baik tinggal disini dulu Kang Mu Gyul“.
Mu Gyul : “Kau bahkan tidak punya kamar kosong, lalu dimana aku harus tidur?“
Jung In : “Kau bisa tidur di ruang hiburan“.




Mu Gyul bangun dan menyibak tirai pembatas dengan kasar, menatap Mae-ri dalam, mengusap bibirnya dengan lidahnya lalu perlahan lahan mendekatkan wajahnya ke wajah Mae-ri dan mencium Mae-ri.



Jung In : “Kang Mu Gyul apa yang kau…..?“kalimat Jung In terputus begitu melihat Mae-ri dan Mu Gyul. Ketiganya sama sama terkejut.
Mae-ri : “Aku menumpahkan jus ke baju Mu Gyul” jawab Mae-ri sambil menunjukkan baju yang terkena noda.
Mu Gyul : “Kenapa? apa aku tidak boleh mencuci baju disini?“
Jung In : “Kau bisa menggunakan mesin cuci, kenapa kau mencuci dengan tangan di tengah malam dan membangunkan ku? Cepatlah pergi tidur“. Jung In menatap sekilas mereka berdua lalu meninggalkannya.
Mae-ri : “Dia terlalu sensitif” lalu Mae-ri melanjutkan mencuci pakaian Mu Gyul.
Mu Gyul : “Cepatlah, aku tidak mempunyai pakaian untuk dipakai besok“.
Ayah Mae-ri : “Dasar penipu. Berani beraninya kau menipu putriku dengan memberikan cincin palsu lalu melarikan diri begitu saja?“
Ibu Mu Gyul : “Apa yang harus kulakukan, aku benar benar tidak punya uang. Lagupula bukankah aku sudah bekerja di tokomu.“
Lalu ayah Mae-ri menyuruh ibu Mu Gyul berhenti berbicara dan menulis sebuah kontrak. Ayah Mae-ri mengingatkan bahwa mereka telah sepakat untuk memisahkan Mae-ri dan Mu Gyul.
Ibu Mu Gyul duduk bertopang dagu sambil meratapi nasib Mu Gyul dan menyalahkan Mae-ri. Ibu Mu Gyul mengatakan apabila Mae-ri ingin bersama Mu Gyul maka Mae-ri harus bercerai dengan Jung In. Tapi ayah Mae-ri tidak terima, ayah Mae-ri berfikir ibu Mu Gyul ingin Mae-ri bercerai agar dia mendapatkan banyak uang, dan meminta ibu Mu Gyul untuk segera mengembalikan cincin Mae-ri.

Di ruangannya Jung In teringat kembali foto ibu Mae-ri yang ada di dalam dompet ayahnya. Tak lama ayahnya meneleponnya mengajaknya untuk bertemu.

Jung In : “Ya ayah, aku mengerti. Tapi sebelumnya ada yang ingin aku tanyakan. Di dalam dompetmu… aku melihat ada foto ibu Mae-ri. Aku benar benar penasaran. Apakah ada alasan khusus kenapa aku harus menikahi Mae-ri?“
Ayah Jung In : “Masalah itu sudah pernah aku katakan sebelumnya, bahwa kami sudah sepakat untuk menikahkan kau dan Mae-ri nantinya“.
Jung In : “Antara kau dan ibunya Mae-ri……apakah ada rahasia yang tidak dapat kau katakan?“
Ayah Jung In : “Aku…. tidak ingin membahas masalah itu sekarang.” Lalu ayah Jung In pergi meninggalkan Jung In yang masih duduk termenung memikirkan sesuatu.

Jung In menanyakan kepada nyonya Yoon peihal foto ibu Mae-ri yang disimpan di dompet ayahnya.
Jung In : “Apakah anda pernah bertemu dengan ibu Mae-ri sebelumnya nyonya Yoon?“
Nyonya Yoon : “Saya hanya melihatnya difoto saja tuan muda“
Jung In : “Apakah anda benar benar tidak tau apa apa? Nyonya Yoon tolong jangan menyembunyikannya dariku, tolong katakan padaku. Ayah telah menyimpan foto ibu Mae-ri, sejak kapan itu dimulai?“.
Nyonya Yoon : “Kemungkinan, sudah hampir 30 tahun.” Setelah memberi tahu Jung In, nyonya Yoon mohon pamit pada Jung In.
Para petugas EO itu masih sibuk memilihkan gaun pengantin yang akan Mae-ri pakai nantinya, lalu menyuruh Mae-ri mencoba salah satu gaunnya. Mae-ri keluar mengenakan gaun pengantiinya dan terlihat sangat cantik. Tetapi nyonya Yoon ingin Mae-ri mencoba gaun pengantin yang lainnya. Mae-ri melihat Jung In hendak berjalan keluar lalu memanggilnya. Dan Mae-ri serta Jung In keluar rumah untuk berbicara berdua.

Jung In : “Ini hanya bagian dari sandiwara, agar semua orang tidak curiga dengan apa yang kita lakukan. Apa yang kau khawatirkan tidak akan terjadi, jadi tenanglah.” Lalu Jung In menyuruh Mae-ri masuk kedalam karena cuacanya sangat dingin.
Tiba tiba Mu Gyul muncul dan terkejut melihat keduanya, terlebih melihat Mae-ri memakai gaun pengantin. Mae-ri yang melihat kedatangan Mu Gyul pun terkejut.Dengan tatapan yang dingin Mu Gyul bertanya apakah mereka sedang merencanakan untuk melakukan foto pernikahan. Mae-ri langsung menyangkalnya, tapi Mu Gyul juga tidak mau kalah, “Kalau tidak, lalu kenapa kau berpakaian seperti itu??“.


Ibu Mu Gyul : “Kau sudah tinggal bersama orang yang sudah resmi menikah denganmu, jadi jangan datang kesini lagi.“
Mae-ri : “Tidak, aku hanya menyukai Mu Gyul. Aku tinggal disana karena sebuah alasan yang tidak dapat kujelaskan. Dalam dua minggu aku akan keluar dari rumah itu.“
Ibu Mu Gyul : “Mu Gyul sudah banyak terluka karena aku, bagaimana aku bisa membiarkannya lebih terluka karenamu?“. Mae-ri hanya menunduk.
Mae-ri : “Karena kau memberiku cincin imitasi waktu itu, sekarang Mu Gyul dalam posisi yang sulit.“
Ibu Mu Gyul bangun dari duduknya dan marah pada Mae-ri karena Mae-ri menyalahkannya, dan berkata bahwa Mae-ri lebih buruk darinya lalu meminta Mae-ri untuk tidak menemui Mu Gyul lagi.


Ayah Jung In : “Ini bukan pertama kalinya aku bertemu denganmu. Aku tahu bahwa cincin itu palsu, dan walaupun Jung In berusaha untuk menutupinya tapi kau tidak bisa membodohiku. Bahkan jika itu cincin imitasi, tidak mungkin Jung In membeli cincin murahan. Apakah kau dalam masalah lagi?“
Ayah Mae-ri masih berusaha menutupi masalah yang sedang terjadi pada ayah Jung In, tapi ayah Jung In tetap memaksa ayah Mae-ri agar mengatakan padanya. Lalu ayah Jung In memperlihatkan foto foto Mae-ri bersama Mu Gyul. Ayah Mae-ri sempat kaget dan heran bagaimana ayah Jung In bisa mendapatkan foto foto tersebut. “Aku mengadakan penyelidikan, dan ternyata Mae-ri tinggal bersama dengan pria itu” jawab ayah Jung In. Lalu menanyakan apakah ayah Mae-ri mengetahui tentang hal itu, dan ayah Mae-ri tetap berusaha menyangkal bahwa dia tidak tahu. Ayah Jung In akhirnya mengatakan jika dia mendengar berita tentang Mae-ri dan Mu Gyul lagi dia tidak akan tinggal diam dan meminta ayah Mae-ri untuk segera menghubunginya bila tidak hubungan persahabatan mereka akan berakhir.

Mu Gyul : “Dari awal aku tidak memikirkan perasaanmu. Itu adalah kesalahanku.“
Seo Joon : “Aku ingin benar benar bersikap dingin, tapi ternyata itu tidak mudah. Aku tidak ingin berpura pura dingin lagi. Karena tidak ingin kehilangan muka, aku kehilangan banyak hal, bahkan untuk sebuah hubungan itu tidak lebih baik dari sampah. Aku masih ingin hidup dan mengekspresikan diri sepenuhnya.” Mu Gyul hanya tersenyum melihatnya.
Mu Gyul berjalan pulang dengan langkah sempoyongan sambil sesekali tersenyum mengingat kejadian tadi. Seo Joon masih ada di cafe bersama teman teman band Mu Gyul dan berusaha membangunkan mereka yang sudah mabuk berat. Salah satu teman Mu Gyul keceplosan bicara pada Seo Joon bahwa Mae-ri dan Jung In tinggal bersama.


Mu Gyul memutuskan untuk pergi kerumah Jung In, dimana Mae-ri tinggal. Mu Gyul berdiri di depan rumah Jung In mencoba untuk mengirimi Mae-ri sms tapi tidak jadi. Begitu pula Mae-ri di dalam kamarnya duduk dilantai bersender pada tempat tidurnya memandangi hp nya dan mencoba untuk mengirimi Mu Gyul sms tapi tidak jadi juga dan memutuskan untuk ke dapur mengambil air minum.

Jung In : “Maaf… Apakah kau tahu bagaimana rasanya terperangkap, tidak dapat masuk atau pun keluar? Aku pernah berkata bahwa ayahku seperti Tuhan bagiku. Tidak pernah sekalipun aku tidak memenuhi keinginannya. Aku fikir semua itu benar tapi ternyata aku salah. Mae-ri… kau juga merasa bahwa kita tidak dapat menikah bukan? Apa kau tahu kenapa orangtuaku bercerai? (Jung In mengingat kembali foto ibu Mae-ri yang ada di dompet ayahnya). Setelah semua ini berakhir, aku akan mengambil semua uang investasi ayahku dan mengembalikannya, kau juga bisa kembali bebas.“
Jung In beranjak pergi sambil sempoyongan, Mae-ri berusaha membantunya dengan memapah tangan Jung In, tapi tidak sengaja Jung In menginjak sandal Mae-ri dan mereka berdua terjatuh. Sangat tidak beruntung posisi jatuh Jung In tepat berada di atas Mae-ri dan pada saat itu juga ternyata Mu Gyul memutuskan untuk masuk kedalam rumah Jung In.














Mu Gyul : “Tangan kanan, kepalaku gatal“. Mae-ri pun menggaruk kepala Mu Gyul. “Setelah aku bangun maukah kau melakukan perawatan rambut untukku?“
Mae-ri : “Baiklah, setelah kau bangun nanti.“
Mu Gyul : “Mae-ri, aku berharap setiap kali aku membuka mataku, kau selalu ada disampingku. Kau tidak akan pergi kemana mana kan?“
Mae-ri : “Jangan khawatir, aku akan selalu ada disisimu. Tapi apakah besok kau akan benar benar bisa melakukan pertunjukkan? Apakah kau mengatakan baik baik saja agar semua orang tidak khawatir?“
Mu Gyul : “Besok, aku harus berada diatas panggung. Di depan orang banyak aku harus membuat pengakuan.“
Mae-ri : “Pengakuan apa?“
Mu Gyul : “Lihat saja besok Sebelum aku menyanyikan lagu yang kutulis untukmu aku akan membuat pengakuan“
Tiba tiba ada seseorang yang datang dan membuka pintu. Ternyata yang datang adalah ayah Mae-ri. “Apa yang kalian lakukan disini?!?!?!” ayah Mae-ri shock melihat Mae-ri dan Mu Gyul tidur bersama, begitu juga Mu Gyul dan Mae-ri yang langsung melompat bangun begitu melihat ayah Mae-ri masuk.

Ayah Mae-ri : “Apakah aku ayahmu? Beraninya kau. Lagipula apa yang kau punya?“
Mae-ri : “Ayah, Mu Gyul punya segalanya. Dia tinggi, tampan, pintar bernyanyi dan bermain gitar. Dia seorang pengarang lagu, pandai memperbaiki barang barang elektronik yang rusak dan sangat mencintaiku.“
Mu Gyul : “Aku pasti akan menjadi seorang musisi yang sukses demi Mae-ri, dan akan mencintai Mae-ri dengan segenap hatiku. Membelikannya banyak baju yang cantik dan kami akan hidup bahagia.“
Ayah Mae-ri : “Bahkan jika bumi berhenti berputar atau biru berubah menjadi putih, aku tidak bisa menjadikanmu menantuku. Karena aku sudah memiliki menantu. Aku hanya memiliki seorang anak perempuan bagaimana bisa aku memiliki dua menantu? Itu benar benar konyol“
Ayah Mae-ri langsung menarik Mae-ri dan memaksanya untuk ikut pulang bersama dengan ayahnya.




Dirumah, Mae-ri masih terkurung dalam kamarnya sampai dia tertidur di depan pintu. Seletah bangun Mae-ri mendapat ide untuk bisa keluar dari rumahnya. Dia berpura pura perutnya sakit dan berteriak minta tolong pada ayahnya. Mendengar anaknya berteriak kesakitan, ayahnya spontan membukakan pintu kamarnya dan menghampiri Mae-ri yang tergeletak dilantai sambil kesakitan. Begitu ayahnya ingin menolong Mae-ri tiba tiba Mae-ri mendorong ayahnya dan langsung kabur keluar rumah tanpa menghiraukan teriakan ayahnya.




Related posts
- Si Kembar Mulus Montok dari Rusia
- Daftar Lagu dari Album Terbaru Super Junior (SuJu)
- Download MP3 Wonder Girls 2011 - Album Terbaru Wonder World
- [News] Laporan Drama ‘Prime Time’ 16~19 Januari
- Penyebab Perceraian Aa Gym - Teh Ninih
- Antara Yenni dan Sari, Semua Hot
- [News] Eru bermain di film Indonesia
- Model Taiwan Charmian Chen Bicara Soal Payudaranya
- Ungkapan Cinta Paling Romantis
- Ahkkk.. ia mendesah dan kepalanya terangkat




